Pemkot Ambon Mulai Program Inovasi Pengelolaan Sampah Plastik Berbasis Masyarakat

  • Administrator
  • Rabu, 17 Juni 2026 21:22
  • 2 Lihat
  • PEMERINTAHAN

Ambon, CM – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon resmi memulai pelaksanaan program inovasi pengelolaan sampah plastik melalui kegiatan Kick-Off Meeting dan Stakeholder Coordination Meeting yang berlangsung di Ruang Rapat Vlissingen, Balai Kota Ambon, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal proyek penelitian bertajuk “Advancing an Equitable and Just Energy Transition in Ambon through Community-Based Waste Innovation and Inclusive Education” yang bertujuan mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus mendukung transisi energi yang adil di Kota Ambon.

Program ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya Universitas Katolik Soegijapranata, Macquarie University Australia, Pemerintah Kota Ambon, Politeknik Negeri Ambon, Institut Tifa Damai Maluku, serta sejumlah organisasi dan komunitas masyarakat.

Melalui kerja sama tersebut, para pemangku kepentingan berupaya mengembangkan sistem pengelolaan sampah plastik berbasis masyarakat, memperkuat pendidikan lingkungan yang inklusif, serta membangun tata kelola yang mampu mendukung pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif.

Dalam sambutannya, Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proyek tersebut. Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi Kota Ambon, khususnya di bidang persampahan, tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata.

Ia menegaskan bahwa dibutuhkan sinergi dan dukungan dari berbagai elemen untuk mengatasi tantangan yang semakin kompleks. Dengan kerja sama yang kuat, berbagai permasalahan yang dihadapi daerah dapat ditangani secara lebih efektif.

Wattimena juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kota Ambon masih masuk dalam kategori daerah yang memerlukan pembinaan dalam pengelolaan sampah. Meski demikian, pemerintah kota terus melakukan berbagai upaya perbaikan, mulai dari peningkatan infrastruktur, penambahan armada pengangkut sampah, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia pada Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan.

Terkait pemanfaatan sampah sebagai sumber energi, Wattimena membagikan pengalamannya saat mengunjungi fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik di Singapura. Ia menjelaskan bahwa meskipun investasi yang dibutuhkan sangat besar dan kontribusi energinya relatif kecil, manfaat utamanya terletak pada kemampuan mengurangi dampak lingkungan akibat sampah.

Menurutnya, pola pengelolaan yang hanya berfokus pada pengumpulan dan pembuangan ke tempat pemrosesan akhir tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Oleh karena itu, inovasi yang mampu mengolah sampah sejak dari sumbernya menjadi langkah yang lebih efektif.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemkot Ambon berencana mulai menerapkan teknologi pengelolaan sampah melalui pembangunan Material Recovery Facility (MRF) dan Refuse Derived Fuel (RDF) yang dapat mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif seperti briket.

Dengan produksi sampah yang mencapai sekitar 250 ton setiap hari, pemerintah mengakui bahwa metode pengangkutan konvensional tidak lagi cukup untuk mengatasi persoalan tersebut. Selain membutuhkan biaya operasional yang tinggi, cara tersebut belum mampu mengurangi volume sampah secara signifikan.

Karena itu, pengembangan inovasi pengelolaan sampah plastik berbasis masyarakat serta peningkatan edukasi lingkungan dinilai penting untuk membangun kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Wattimena juga mengapresiasi meningkatnya kepedulian warga terhadap isu kebersihan lingkungan. Ia menilai saat ini banyak komunitas yang secara sukarela terlibat dalam kegiatan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing, sebuah potensi lokal yang perlu terus didukung dan diperkuat.

Selain itu, ia berharap Politeknik Negeri Ambon dapat berkontribusi melalui pengembangan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan langsung di kawasan permukiman. Teknologi tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat mengolah sampah secara mandiri sehingga mengurangi beban pemerintah dalam penanganannya.

Melalui penelitian kolaboratif ini, Pemkot Ambon berharap dapat menghasilkan kajian yang komprehensif mengenai persoalan persampahan di kota tersebut, sekaligus menghadirkan rekomendasi dan solusi jangka panjang yang dapat diterapkan secara nyata.

Pelaksanaan kick-off meeting sendiri bertujuan menyamakan persepsi seluruh pihak terkait arah implementasi program, memperkuat koordinasi antarlembaga, serta memastikan komitmen bersama dalam mendukung agenda pembangunan daerah yang berkelanjutan.(CM/JP)

Komentar

0 Komentar